Tanggung Jawab Siapa Pasar Labuan Yang Kotor, Macet dan Diduga Ladang Pungli

Suitnews.com, Pandeglang – Siapa yang harus bertanggung jawab atas keberadaan Pasar Labuan yang berlokasi di jalur lintas Pandeglang-Carita keadaannya sekarang kini kotor kumuh dan macet. Kotor lantaran Pasar yang tiap hari menghasilkan puluhan kubik sampah dibiarkan tergeletak di sudut-sudut Pasar karena Pasar Labuan tidak memiliki tempat Pembuangan Sampah resmi

“Kami sendiri bukannya tidak bertanggung jawab apalagi diam melihat persoalan seperti itu,akan tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa sebab sudah berkali-kali kami akan menyimpan Bak sampah di tempat-tempat strategis, justeru di tolak mentah-mentah oleh pemilik Toko atau Kios yang berdekatan dengan Bak sampah dan pada akhirnya bisa kita lihat sendiri seperti itulah keadaannya.’ Tutur Amin Mantri kebersihan pasar Labuan pada Suitnews.com

Lalu bagaimana dengan persoalan Macet yang diakibatkan Kendaraan Roda Dua, Roda Empat berikut Becak dan Pedagang Kaki Lima serta Pedagang kagetan yang hanya beralas nampan. Mereka saling merangsek ke bahu jalan pada akhirnya Macet total lalu sumpah serapah ungkapan kejengkelan pencibiran pada Pemerintah menjadi bagian dari konsumsi Masyarakat pengguna fasilitas umum.

“Sebenarnya tiap hari ada yang mengatur kendaraan tapi bukan kendaraan umum Dia hanya tukang parkir yang legalitasnya abu-abu di tambah institusi yang berkepentingannya pura-pura molor.” Terang Agung Maulana pengguna jalan raya.

“Yang jadi pertanyaan Saya Masa Ada parkir di tempat fasilitas umum, masa ada parkir petugasnya tidak menyertakan karcis retribusi, Parkir itu kan tempatnya resmi milik Pemerintah yang memang di peruntukan parkir lalu menggunakan zebra cross sementara yang kita lihat tiap hari di Labuan konteksnya hanya pada soal uang adapun soal macet itu no problem alias peduli amat.” Lanjut Agung .

Menengok ke Pasar Baru Labuan Pasar yang memiliki julukan Seribu aroma mulai dari praktek pungli yang di lakukan oleh oknum pemilik kios, praktek prostitusi dan praktek para waria, serta pesta Miras oplosan, saling berjibaku tiap hari dan malam hari. Praktek Pungli misalnya ternyata di lakukan oleh pemilik kios yang lahan depannya di gunakan oleh pedagang lain begitu seterusnya antara pedagang di belakang pungut dana pada pedagang di depan hingga berjalan secara estafet lalu imbasnya bahu jalan ibarat orang tua yang sudah renta menahan sesak nafas Macet tak berkesudahan. Malamnya giliran Praktek esek-esek para penjaja syahwat yang berbaur dengan komunitas Waria dan di lengkapi dengan bau Alkohol di campur Miras oplosan dari para peminat kehidupan remang-remang, semua berjalan aman nyaman, seakan hal itu bukan sesuatu yang mengganggu apalagi berkaitan dengan penyakit Masyarakat .

“Kita cukup prihatin dan hanya mengusap dada melihat kenyataan seperti itu . Pasar Labuan sepertinya ibarat Sapi perah yang hanya di perah sarinya saja tapi tak peduli atas kesehatan pada Sapi itu sendiri, mana geregetnya Muspika soal trantib, mana Suara dishubkominfo soal Parkir Gelap, mana tindakan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral soal Ratusan pedagang yang merangsek tutupi jalan, Mana ketegasan Dinas lingkungan hidup dan Cipta Karya ketika rame-rame Masyarakat menolak Bak sampah di letakan di sudut Pasar sementara Masyarakat rame-rame membuang bungkusan Sampah di sembarang tempat.” Keluh Amanda Warga Labuan

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas semua itu lanjut Amanda .

“Sejatinya kami berharap Irna Narulita Bupati Kabupaten Pandeglang tidak hanya mencermati fenomena di Pasar Labuan akan tetapi sekaligus menindak lanjuti para SKPD nya yang bekerja hanya sebatas di ruang kerjanya semata.” Pungkas Amanda pada Suitnews.com.

( RED / RUSDI )

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *