Potret Pengemis Cilik di Kota Serang Yang Memilukan

suitnews.com, Serang – Tertunduk lesu, serta pakaian yang lusuh selalu dikenakan sebagai tanda harapan ada “tangan tuhan” lewat para dermawan memberikan sebagian rizkinya.

Demikian gambaran pemandangan yang tak asing lagi bagi masyarakat yang melewati Jl. Bhayangkara no.17,Kota Serang, Banten, tepatnya di depan rumah makan Frangipani Alam Bali. Selalu nampak Terduduk seorang anak kecil dan orang tua berwajah kusut terbalut pakaian cumpang camping namun tidak meminta-minta bak pengemis pada umumnya.

Saat di hampiri keduanya, anak itu pun diam dengan pandangan penuh harap yang menghampirinya dapat memberkan sesuatu kepadanya.

Bunga (Red:nama samaran) begitu nama yang ia sebutkan saat wartawan mencoba mewawancarainya, anak yang berusia 9 tahun itu mengaku berasal dari Ciruas Kabupaten Serang, saat ditanya tentang siapa orang tua yang selalu bersamanya itu, Bunga, mengakui bahwa orang tersebut adalah ayah kandungnya.

Dengan wajah yang berkaca – kaca Bunga menceritakan bahwa ayahnya seorang tuna netra dan tuna rungu, kaca mata hitam yang dikenakan ayahnya serta tak pernah bicara meyakinkan bahwa ayahnya memang memiliki kekurangan.

Bunga menuturkan bahwa saat ini dirinya tengah duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Ciruas, Kabupaten Serang. Bunga yang rutin memulai kegiatan mengemisnya ia lakukan sejak pulang sekolah sampai dengan sore hari sekita pukul 17.00. WIB.

Bunga mengaku, uang yang ia dapatkan setiap harinya rata-rata hanya sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu. Namun yang mengejutkan, yaitu ketika gadis kecil ini mengatakan bahwa uang yang ia terima dari hasil mengemis hanya Rp5000. Hal itu lantaram uang yang ia dapat terlebih dahulu harus ia setorkan kepada pamanya yang tak mau ia sebutkan namanya.

“Uang nya dipake buat beli makanan. Berdua sama bapak,” tuturnya sedih.

Bunga yang selalu mengemis didepan rumah makan tersebut, tidak pernah berkeliling seperti pengemis pada umumnya, Bunga mengaku bahwa ia mengemis bukanlah kehendak dirinya sendiri namun merupakan perintah pamannya. Namun ia selalu mengelak saat ditanya nama pamannya itu.

“Iya setiap hari harus (mengemis-red) kalo gak mau dimarahin,” katanya.

Lebih jauh Bunga mengatakan, bahwa saat ini ia tinggal bersama ayah dan neneknya. Bunga mengakui bahwa ia telah ditinggalkan oleh ibunya ke daerah lampung. Dan saat ini, hanya neneknya lah yang mengurus dan memberikannya makan Bunga saat berada di rumah.

Meski saat ini ia hanya sebagai pengemis, ia memiliki cita – cita yang teramat mulya, ia berharap ketika besar nanti ia bisa menjadi seorang dokter. Dia juga tidak mau selalu berharap belaskasihan dari orang lain namun juga ingin bisa menjalani kehidupan seperti anak lain pada umumnya.

Dimasa kanak-kanakannya ini Bunga ingin tetap belajar dan bermain bersama temannya, bukan malah memiliki beban untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Seyogyanya pemerintah dapat melakukan dan memberikan langkah nyata serta bisa membuka mata agar kemiskinan yang terjadi di sekitar tidak membudaya. Terlebih hal ini terjadi bukan di pedesaan terpencil melainkan di ibukota kota Provinsi Banten.

(Mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *