MENGENAL SOSOK PEJUANG INTELEKTUAL ACHMAD TIRTOSUDIRO

Opini : Arief Wicaksana,
Mahasiswa pasca sarjana Paramadina.

Achmad Tirtosudiro, yang mempunyai nama Muhammad Irsyad dengan nama panggilan mamit, beliau dilahirkan di Plered, Purwakarta, Jawa Barat pada tanggal 8 April 1922. Beliau terlahir dari seorang Ibu dengan latar belakang pesantren yang kental dan seorang ayah yang berasal dari tanah kusir, Jakarta Selatan. hal inilah yang mengantarkannya sebagai sosok yang mampu dan mudah untuk beradaptasi dilingkungan manapun karena berasal dari keluarga yang berbeda budaya, sehingga beliau mampu bergaul pada tingkatan manapun, baik bergaul dengan anak-anak Priyai, anak-anak dilingkungan Pesantren atau anak-anak pada umumnya, apalagi beliau semasa sekolahnya sering berpindah-pindah sekolah dikarenakan ayahnya sering dipindah tugaskan kebeberapa daerah.

Beliau selain yang kita kenal sebagai Letnan Jendral (Purn) karena konsentrasinya dibidang militer, namun dia adalah sosok yang gigih dalam bidang kesejahteraan sosial dibuktikannya dengan sorotan beliau kepada kualitas pendidikan Indonesia dan ketahanan Indonesia, Hal yang beliau utarakan bahwa kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari sistem Pendidikannya. dan sempat beliau menjabat sebagai Rektor Universitas islam Bandung, Selain Pendidikan beliau juga adalah orang yang multitalen, kecerdasannya dan kegigihannya mampu membuat beliau bisa tumbuh dimanapun beliau ditempatkan, karena selain beliau pernah menjadi Rektor di Universitas Islam Bandung, Beliau sempat menjadi Dubes RI untuk berbagai Negara seperti Arab Saudi, Yaman dan Oman. selain kedua amanah yang pernah ada dalam diri beliau itu, beliau juga berperan aktif dalam mengembangkan Badan Usaha Logistik atau yang dikenal dengan istilah BULOG.

Bagi kalangan mahasiswa Achmad Tirtosudiro dikenal sebagai salah satu tokoh penting berdirinya Organisasi Islam tertua di Indonesia yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI pada tahun 1948, ketika itu beliau berstatus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta, beliau menjabat ketua umum PB HMI menggantikan H.M.S. Mintaredja. pada saat menjabat sebagai ketua umum PB HMI beliau juga berperan aktif membentuk Corps Mahasiswa (CM) sebagai wadah mahasiswa yang pada waktu itu dipersiapkan untuk angkat senjata melawan penjajah belanda yang hendak kembali lagi ke bumi pertiwi ini, termasuk untuk melakukan penumpasan terhadap pemberontak PKI di Madiun pada tahun 1948. kepemimpinannya di HMI berakhir ketika beliau terpaksa meninggalkan Yogyakarta, mengingat tugasnya sebagai Ketua Local Joint Commite (LJC) VI Jawa Barat.

Ahmad Tirtosudiro selain orang yang gigih dalam menjaga kondisi bangsanya, beliaupun gigih memenuhi kebutuhan Rohaninya, bahkan sahabat beliau Dahlan Ranuwiharjo menjelaskan beliau adalah orang yang taat akan beribadah, sholat yang tidak pernah tinggal, rajin berucap doa disegala Aktivitasnya dan itulah yang membuat ia dikenal sebagai sosok yang Relijus. bahkan dalam buku karangan Berliana Kartakusuma yang berjudul Pemimpin Adiluhung, yang menjelaskan tentang sosok Achmad Tirtosudiro sebagai implikasi logis dari keyakinannya terhadap Ajaran Islam, maka dari itu bicara Sosok Nasionalis dan Religius tidak bisa mengesampingkan Beliau karena beliau bisa dikategorikan lengkap di kedua bidang tersebut.

sosok yang Hidupnya tidak pernah lepas dari perjuangan ini harus menjadi motifasi bagi diri kita untuk mampu menjadi pemimpin yang memimiliki Intelektual tinggi, memiliki kemampuan berfikir yang kuat, memiliki wawasan yang luas meliputi KeIslaman dan KeIndonesiaan, serta bidang-bidang terkait Budaya, Ekonomi, Politik dan Hukum. Bahkan kita sebagai generasi muda yang sudah masuk pada fase Bonus demografi harus mencontoh Skill bahasa yang dimiliki oleh Ahmad Tirtosudiro diantara lain beliau mampu berbicara dengan bahasa Inggris, Belanda, Jerman secara Aktif dan bahasa Arab dan Prancis secara pasif. bahkan Bahasa daerah Seperti Jawa dan Sundapun Beliau menguasainya. bahkan lebih hebatnya lagi beliau mendapat 12 bintang Jasa dari Pemerintah Yugoslavia dan Republik Federal Jerman.

Sebagai generasi yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya memegang estapet Pemimpin Negeri ini, maka kita harus mengambil contoh dari setiap pejuang kita, dan sosok Achmad Tirtosudiro yang meninggal pada tanggal 9 Maret 2011 yang dimakamkan disarming makam istrinya di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Harus kita contoh semangat juang dan kepribadian ketika hidupnya mempertahankan KeIndonesiaannya dan memperkuat Sisi Rohaninya.

Sumber Bacaan :
* Rayani Sriwidodo, Jendral Dari Pesantren Legok “80 Tahun Achmad Tirtosudiro”,Pustaka Jaya, Jakarta, 2002.
* M. Alfan Alfian, dkk, Mereka Yang Mencipta Dan Mengabdi, Penjuru Ilmu Sejati, Bekasi, 2016.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *