KETIKA ULAMA MENJADI REBUTAN UNTUK MENDAPATKAN KEKUASAAN

Suitnews.com, Tangerang – Akhir-akhir ini fenomena pemilihan presiden menjadi obrolan yang menghangatkan untuk selalu di bahas. Dari kalangan atas sampai kalangan bawah tak henti-hentinya menyuarakan pendapatnya masing-masing tentang siapa yang layak menempati kursi kekuasaan. Padahal nomor urut pasangan baru di tetapkan tadi malam akan tetapi jauh sebelum itu baik di media sosial maupun di dunia nyata orang-orang sudah gegap gempita dengan tagar andalan mereka. #tetapjokowi dan #2019gantipresiden selalu menghiasai di kolom komentar walaupun konten yang dikomentari sangat jauh dari ranah politik.

Di suhu politik yang semakin meningkat ini para pasangan calon berlomba- lomba dalam mendulang suara. Berbagai strategi dikeluarkan demi tercapainya tujuan menjadi petinggi di negeri ini.
Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam tentunya memiliki ULAMA yang menjadi panutan. Bukan hanya untuk urusan agama, masalah siapa yang harus dipilih pun menjadi suatu keharusan untuk dimintai pendapat terhadap ulama itu.

Seperti yang kita ketahui, di Indonesia ada banyak sekali ulama yang sangat berpengaruh terhadap umat. Salah satu dari tokoh ulama tersebut adalah KH. Syukron Ma’mun. Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman ini menjadi salah satu ulama yang menjadi rujukan umat.
Pada hari jumat tanggal 21 September 2019 calon wakil presiden yg diusung partai Gerindra Sandiaga Uno mendatangi komplek pesantren Daarul Rahman untuk bersilaturahmi dengan KH. Syukron Ma’mun bahkan sebelumnya, KH. Ma’ruf Amin juga sudah terlebihdahulu mendatangi beliau ketika di rumah sakit.
Ketika dua cawapres ini mendatangi sosok yang sama umat pun dibuat bingung tentang siapa yang harus dipilih di 2019. Disinilah kehebatan KH. Syukron Ma’mun dalam menengahi umat yang kebingungan. Menurutnya beliau masih menunggu issue apa yang akan dibawa oleh keduanya , baru bisa mengambil peran.

Dari statemen nya KH. Syukron Ma’mun mencoba menjadi penengah diantara dua kubu. Dan itulah peran ulama yang harus dicontoh karena seorang ulama bukan hanya milik perseorangan atau golongan tertentu akan tetapi ulama itu milik umat keseluruhan.

(Wildan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *