Fitnah Kekuasaan Menjelang Pemilihan Umum

Suitnews.com (11/4) Kekuasaan, dimanapun, bagai seonggok gula yang mengundang semut. Pesonanya demikian memukau hingga banyak orang rela berkorban apa saja dan berbuat apapun. Segala cara dan daya dikerahkan untuk melanggengkan kekuasaan. Mulai cara-cara halus, persuasif sampai kasar.
Masih jelas dalam ingatan kita bagaimana kasar dan sadisnya PKI dalam meraih ambisinya dengan membunuh putra-putri terbaik dan rakyat tak bersalah. Segala cara dihalalkan. Pembunuhan, perampokan dan kekacauan diintrodusir sedemikian rupa dalam rangka membuat rakyat gelisah, berpecah belah, dan pada saatnya mereka melancarkan makar dengan melakukan kudeta. Alhamdulilah semua itu gagal, meski tetap memakan korban.

Kemarin-kemarin masyarakat diresahkan oleh teror bom atau teroris, dan pelakunya masih tanda tanya.kemudian menjelang Pemilihan Gubernur banyak Tokoh yang kontroversi dengan mengadu domba dan mengatasnamakan Agama dan sekarang menjelang Pemilihan Legislatif dan Presiden, Banyak fitnah yang tersebar yang di lakukan oleh orang-orang yang haus kekuasaan. Itulah contoh yang terjadi belakangan ini.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT mengabadikan tokoh penguasa zalim pada figur Fir’aun. Boleh dikata ialah satu-satunya anak manusia yang namanya sering disebut dalam Al-Qur’an. Begitu besar kekufuran, ketamakan dan kezalimannya, maka setiap kali kita membaca kisah Fir’aun, kita diingatkan bahwa: Kekuasaan ternyata bukan cuma menyebar rasa manis dan lezat, namun juga mengandung gumpalan azab dan derita yang amat pahit. Kekuasaan dalam sejarahnya senantiasa menjadi sumber lahirnya peristiwa bersejarah, baik positif maupun negatif.

Kekuasaan akan terasa manis bagai gula jika yang memegangnya orang-orang yang memiliki keadilan dan kejujuran, hukum yang diterapkan tak pandang bulu.

Namun jika kekuasaan jatuh ketangan orang yang sombong, tamak dan serakah, yang timbul adalah suasana ketakutan, kerusakan dan kemaksiatan.
Dalam kondisi seperti ini kepastian hukum hanya akan menjadi angan-angan, sebab yg berlaku hukum rimba, siapa lemah dia punah, yang kuat akan menang. Hukum hanya akan jadi alat legitimasi kepentingan dan nafsu kaum berpunya dan berkuasa, sedang kaum duafa hanya akan jadi pelengkap penderita, yang harus selalu didera, dinista dan dianiaya.

Kita tentu tidak ingin kekuasaan dijadikan alat untuk menindas sesama dan memperkosa kaum duafa. Kita menginginkan kekuasaan sebagai penegak keadilan dan kebenaran. Kita juga berharap yang memegang kekuasaan adalah yang sanggup mengemban tugas suci nan mulia tersebut. Mereka menempatkan ridha Allah dan maslahat orang banyak diatas kepentingan pribadinya.

Untuk itu sudah seharusnya kita berhati-hati dalam memilih pemimpin yang akan menerima kekuasaan atas kita. Sebab salah pilih akibatnya bisa amat fatal, untuk keutuhan dan kemajuan kita bersama.

Diantara kriteria pertama yang harus diperhatikan dalam memilih Pemimpin adalah dengan melihat ketaqwaan dan akhlaknya. Pemimpin dan penguasa yang taqwa dan berakhlak pasti akan mengusung kebenaran dan keadilan, sebab ia sadar bahwa semua tindakannya akan dipertanggung jawabkan kelak di hari akhir.

Sabda Rasul SAW, “jangan kamu berikan kepemimpinan atau jabatan kepada orang yang meminta.”

Sulaeman Apandi
(Ketua LKP2M Banten)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *